Skip to main content

Posts

Jatuh Hati di Dusun Jati

Apa yang paling membedakan kehidupan desa dan di kota? Hidup di kota menuntut kecepatan, ketepatan, dan kesempurnaan. Hidup di desa memberi kesempatan, kelegaan, dan kesederhanaan. Tidak selamanya tuntutan itu negatif, ada kalanya kita butuh dituntut untuk berkembang. Namun terkadang, dorongan untuk memenuhi seluruh tuntutan itu membuat manusia kota lupa akan kebajikan hidup yang mungkin bisa ditemukan jika mau menenangkan diri sejenak, seperti yang manusia desa hampir selalu lakukan.

Tentang: Runtuh

Rabu pagi, awan menggantung rendah, angin sejuk sepoi-sepoi, kicauan burung sahut menyahut terdengar. Sungguh hari yang sangat sempurna jika saja tidak terjadi sesuatu yang menekan emosiku. Aku berjalan gontai. Mencari sudut-sudut yang jarang dilewati orang. Terlalu kalut dan takut. Aku membenci diri sendiri dan sedang tidak bisa berpikir sejernih biasanya. Aku butuh mengungsi dari keramaian dan menenangkan kemelut hebat dalam diriku.

Just Watch!

I've seen this video for billion times. Their attempt to capture the beauty of Indonesia has never failed to amazed me. Btw background musiknya keren juga coy... <3

Waktu

Berulang kali aku menggeleng keheranan melihat cara waktu berjalan. Waktu adalah teman sekaligus musuh. Frenemy . Dia tidak acuh pada mereka yang memelas ingin menetap di satu masa. Juga pada mereka yang tersedan mengharapnya lekas berlari. Dia hanya melangkah sesuai takdirnya.  Jika waktu punya perasaan, mungkin dia akan memperlambat diri kala melihat dua sejoli mengikat kasih dalam kebahagiaan yang tak terpikirkan. Jika waktu punya perasaan, mungkin dia berusaha mempercepat langkah demi membantu mereka yang kehilangan orang tersayang dan ingin mengubur rasa pedihnya.  Untungnya, waktu tidak berperasaan. Dia  hanya mengikuti titah Sang Mahakekal. Dia berjalan abai. Dihujat dia tak peduli, dipuji juga tak peduli. Dia menyendiri, melakukan tugasnya yang hakiki. #hiduphampirduadekade  #onthewayto2tahunkuliah #anotherwaveofMaBa #nggakrelajaditua #manusiabisaapa

Moi

“Beberapa misteri dalam hidup baru akan terbongkar 20, 30, atau 40 tahun lagi.” “Iya, setuju.” “Atau…” “Atau?” “Tidak akan terbongkar sampai hayat kembali ke alam baka. Haha. Dia hanya terpajang di sudut hati tanpa bisa disentuh.” “Yah...” “Eh, tapi nggak papa! Toh, dia menambah cantik memori.”

Fakta

We are never so defenseless against suffering as when we love. -Sigmund Freud- (Kutemukan tanpa sengaja di atas halaman salah satu koleksi perpustakaan fakultas dan kuamini kesahihannya.)

Sindoro

Ini kali ketigaku mendaki gunung. Alasanku mendaki kali ini sederhana; mencari kisah. Aku sedang berada pada titik hidup tanpa kisah menarik. Lagipula, aku belum pernah naik Sindoro. Lagipula, Sindoro ada nun jauh di Wonosobo. Lagipula, di gunung pasti selalu ada cerita baru. [warning: long post] upacara sebelum berangkat

Puzzle

Kamu adalah seorang asing yang tiba-tiba menghampiriku dan memberiku sepetak papan beserta potongan-potongan puzzle rumit di atasnya. Bingung, aku menawarkan, "Kita berkenalan dulu saja." "Selesaikan dulu puzzle -nya, nanti kamu kenal diriku." jawabmu mencurigakan.

Lintang

Namanya Lintang. Salah satu siswi di SLB N 1 Yogyakarta. Aku bertemu dengannya saat menjadi sukarelawan di acara Muda Menginspirasi goes to SLB yang diadakan komunitas Muda Menginspirasi. Pada mulanya ia terlihat kesal waktu aku mengelus kepangan rambutnya atau menyentuh kaos kakinya. Ia tidak mau menghabiskan kolak pisang meski sudah kusuapi. Ia memilih duduk pada saat teman-temannya berloncat-loncatan melihat pesulap.

Bertahan

Memasuki tahun kedua perkuliahan, dunia tidak setakterduga dulu saat aku masih Maba. Pintu demi pintu sudah kubuka. Aku sudah mulai paham permainan di balik pintu-pintu itu. Aku tidak se-terkejut dulu. Memasuki tahun kedua ini, aku belajar bertahan. Tidak ada siapapun atau apapun di dunia ini yang menjanjikan jalan hidup mulus dan indah. Euforia perkuliahan memudar. Manis-manis berorganisasi mulai tergantikan dengan rasa kecut bahkan kadang agak pahit. Persahabatan pun kadang antara naik dan turun.

Apa Kata Laura Ingalls?

Suatu sore, aku hendak menyebrang Jalan Kaliurang sekitar Km 4,5. Kuperhatikan dari arah utara sepasukan motor datang dan melesat di depanku. Di belakang mereka melaju Bus TransJogja diikuti beberapa mobil yang hampir menyamai kecepatan si roda dua. Aku menunggu hingga gelombang kendaraan ini reda.

Hai, Puncak Pertama!

Puncak Merapi dari Merbabu Mendengar Palapsi akan mengadakan operasional ke Gunung Merbabu tanggal 26 s.d. 28 September 2014 dan membuka kesempatan bagi anak-anak baru untuk ikut, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri. Ini adalah operasional pertama Palapsi yang aku ikuti. Dengan semangat empat-lima, aku melakukan semua rangkaian persiapan pra pendakian. Jogging dan sprint. Push up, sit up, back up. Juga naik turun tangga GSP (Grha Sabha Pramana) yang serasa tiada akhir itu. Semua kulakukan. Tidak lupa briefing, yang dipimpin PO kali ini, Mbak Mayang, juga kuikuti. Setelah briefing, langsung berburu barang pinjaman ke sana kemari. Carrier, matras, sleeping bag, dan keperluan lainnya. Fisik kuat, mental sehat, barang bawaan lengkap, semua siap.

Throwback

Setelah dua kali ops ke daerah Gunungkidul dan melewati kota Wonosari, aku teringat sesuatu. Awal kelas 12 dulu, aku pernah hidup selama satu minggu bersama orang-orang desa di Wonosari.  Kegiatan itu disebut live in. Aku sebenarnya sudah pernah menulis soal live in di blog ini, tapi tidak lengkap. Ada tulisan lengkapku tentang live in, yang kubuat karena diwajibkan sekolah (hehe), tapi hanya dipublish di blog kelasku. Nah, demi mempermudah dokumentasi, aku mau copy paste tulisan lengkap live in-ku ke sini. hehehe.  *** Memilih Bahagia oleh Eunike Adiprasasti / XIIA2/ 11 Hari pertama sampai di Wonosari saya merasa takut sekaligus excited. Siapa yang akan jadi keluarga saya? Bagaimana rumah saya nanti? Apa saja yang harus saya kerjakan? Dan, pertanyaan  yang paling sering muncul adalah apakah saya akan menikmati hidup di sana? Saya bukan orang yang melihat situasi hanya dari nikmat atau tidak nikmatnya saja. Saya punya rasa gengsi yang tinggi untuk m...

Semarang and Jogja Trip (Day 3, 4, & 5)

So, aku jadi udah terlalu males untuk ngelanjutin cerita Semarang-Jogja, karena mungkin udah terlalu lama juga ceritanya gk kusentuh. Oleh karena itu, sekarang aku cuma pengen cerita sedikiiit aja tentang hari ke tiga, empat, dan lima aku jalan-jalan. Tepatnya tanggal 24-26 April 2014. Hari ke 3 dan 4 aku lewati dengan keliling-keliling Jogja. Yang paling seru buatku adalah:   Ke Keraton all by myself. Kalau kalian lagi jalan sendiri dan lagi ngirit (atau pelit) sehingga nggak mampu (atau nggak mau) bayar guide, aku punya tips jitu supaya perjalanan tetap penuh makna: ikuti diam-diam tour guide yang lagi nemenin pengunjung. Dijamin, Anda tidak akan tersesat. Plus poinnya bisa nguping penjelasan tour guide!   Met a nice old friend, Yobel. Makan di warung gado-gado lothek entah di daerah mana. Gua mah ikut aja. Itu juga yang makan dia doang, aku cuma minum jus. Ditraktir pulak. Hahaha. Habis itu sorenya nge-mall… di Amplaz (Ambarukmo Plaza)… nggak seru ya? ...